Pengaruh Musik Pada Tubuh Manusia

Getaran musik yang berasal dari sumber suara merambat melalui udara hingga diterima pada telinga bagian luar (outer ear) dan berlanjut ke telinga bagian tengah (middle ear). Salah satu bagian di telinga tengah, ossicles berupa tulang di didalam telinga, memperbesar getaran yang diterima hingga dua kali dari ukuran awalnya. Setelah melalui telinga tengah, perjalanan getaran berlanjut ke telinga bagian dalam (inner ear), di dalamnya terdapat satu bagian yang disebut cochlea, berupa koil yang berisi cairan dilengkapi dengan sel berambut. cochlea mengubah energi mekanis menjadi energi listrik untuk kemudian menghantarkan keotak.

 

Untuk masing-masing frekuensi terdapat neuron yang bersesuaian. Impuls listrik ini merambat melalui batang otak berlanjut ke sistem limbik, serangkaian bagian di otak yang berkenaan dengan emosi. Hal ini menyebabkan musik tertentu dapat membuat Anda sedih, sementara yang lain membuat Anda senang. Selepas dari sistem limbik, getaran berlanjut menuju ke audiotory cortex. Audiotory cortex memiliki jejaring sel, feature detector, yang berfungsi untuk memproses musik. Keberadaan feature detector memungkinkan individu mendeteksi oktaf, pola meningkat / menurun, dan berbagai pola lainnya.

 

 

Pengaruh Musik Pada Fisik

Penelitian pertama kali mengenai pengaruh musik pada fisik dilakukan oleh IM. Hyde (1924) Hyde melakukan pengukuran pengaruh musik pada laju nadi, aliran darah, tekanan darah, dan aktivitas elektris di jantung. Pesan musikal merambat pada tulang belakang dan mempengaruhi Autonomic Nervous System (ANS) yang meregulasi detak jantung, tekanan darah, aktivitas otot, metabolisme, pernapasan dan fungsi vital lainnya. Secara umum, musik yang lebih cepat menyebabkan Anda lebih giat dan musik yang lambat cenderung menurunkan kelajuan gerak Anda. Walaupun demikian, respon Anda terhadap musik sangatlah subjektif, bergantung sepenuhnya pada usia, jenis kelamin, fitalitas fisik, aktifitas emosional dan sikap personal terhadap musik, sehingga respon masing-masing individu terhadap musik sangat beragam. Bahkan individu yang memiliki hambatan pendengaran sekalipun menunjukkan respon fisiologis terhadap getaran musik.

 

Menurut Dr. Alfred A. Tomatis suara dapat bertindak sebagai muatan listrik yang memberikan energi pada otak. Riset yang dilakukannya mengindikasikan bahwa sel di cortex bertindak layaknya "batere" kecil memproduksi listrik yang nampak pada pengukuran menggunakan EEG. Hal yang unik adalah "batere" tersebut lebih cenderung mendapatkan energi dari suara dibandingkan dari dalam. Tomatis menemukan pula bahwa frekuensi spesifik yang tinggi mempercepat pemrosesan pengisian tenaga ulang (recharging) - mempengaruhi postur, aliran energi, sikap dan kondisi otot.

 

Frekuensi yang paling memberikan tenaga adalah 8000 Hz sementara frekuensi rendah cenderung mengonsumsi energi mental dan fisik. Kegagalan individu dalam mendengar antara 500 – 1000 Hz menyebabkan apresiasinya terhadap musik menjadi buruk. Kegagalan mendengar frekuensi antara 1000 – 2000 Hz menyebabkan individu tidak mampu bernyanyi secara harmonis dan kegagalan pendengaran di atas 2000 Hz menyebabkan suara individu menjadi datar dan monoton. Riset yang dilakukan frekuensi umum yang sering terdengar berkisar antara 16000 hingga 20000 Hz. Tomatis meyakini frekuensi antara 3000 – 8000 Hz beresonansi pada otak, memicu fungsi kognitif, sementara frekuensi menengah 750 - 3000 Hz menstimulasi jantung, paru-paru/ organ lain dan emosi. Adapun frekuensi rendah 125 - 750 Hz mempengaruhi gerakan fisik.

 

Corpus Callosum pada otak seorang musisi lebih tebal dan lebih berkembang dibandingkan pada individu lain seperti yang dinyatakan oleh Schlaug dan rekan penelitinya pada tahun 1995. Demikian pula halnya dengan planum temporal, yang berposisi pada temporal lobe lebih signifikan pada musisi, demikian yang dilaporkan oleh James Shreeve (1996).

 

Sirkuit musik dan bahasa ditemukan pada kebanyakan kedua hemisfer, pada temporal lobe, melakukan kerja urutan yang lebih rendah pada musik dan pengenalan ucapan. Untuk kerja pada tingkat yang lebih tinggi, riset terdahulu menunjukkan bahwa musik sering kali diproses pada otak belahan kanan sementara bahasa diproses pada otak belahan kiri. Temuan ini didapat dari hasil studi yang dilakukan pada pasien yang mengalami kerusakan pada hemisfer kiri yang tidak dapat bicara namun masih dapat memahami musik, atau rusak pada hemisfer kanan namun masih bisa bicara namun kurang bisa memahami musik.

 

Banyak neurologist setuju bahwa otak kiri memiliki bagian yang di dedikasi pada bahasa, sementara otak bagian kanan memiliki area yang menspesialisasikan pada musik. Beberapa peneliti seperti yang dilakukan oleh Polk dan Kertesz (1993), Young dan Nettlebeck (1995), dan Zatorre et al (1992) mendukung kesimpulan tersebut. Namun demikian, pemrosesan musik oleh otak tidaklah sesederhana itu, terdapat bukti untuk pusat kesempurnaan pola titi nadi (pitch) dilakukan pada otak belahan kiri, seperti yang dilaporkan oleh Nowak (1995) dan Schlaug et al (1995). Kini kita tahu bahwa analisa dari ritme, melodi, dan interval merupakan aktivitas otak kiri.

 

Banyak ilmuwan kini menganggap pemrosesan musik sebagai aktivitas bilateral yang beroperasi pada kedua sisi, seperti yang diungkapkan oleh Cohen dan Granot (1992) dan Hough dan rekan penelitinya (1994). Derajat pemrosesan musik secara lateral sangatlah subjektif, dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya; waktu, gender, apakah individu seorang yang kidal/ tidak, dan lainnya